Mengejar Matahari Hinggah Ke Bukit Paluwuhan

Jujur saja, ketika saya mendengar kata “Trekking” bulu kuduk saya langsung serontak berdiri tegap.Karena kekawatiran selalu muncul bertahap. Saya akui,untuk secara fisik saya mungkin tidak setangguh teman-teman saya yang memilik hobi mendaki gunung. Namun,karena diselimuti rasa penasaran dan rasa ingin menikmati sesuatu yang beda dari ketinggian, sehingga membuat saya nekat untuk melalui tanjakan yang terjal dan licin itu.

Tak akan lepas kata seru, asik dan mungkin agak sedikit dramatis (karena saya asik mengeluh) di sepanjang perjalananan nya. Saya pun selalu tertinggal dari teman-teman dikala melakukan trekking. Dan Logistik bawaan saya juga selalu habis duluan. Nafas dan jantung saya pun berpacu dengan sangat kencangnya.

Yang penting sampai” pikir saya dalam hati.^_^

Daripada saya harus selalu kehilangan kesadaran alias pingsan. Saya lebih memilih perjalanan dengan cara pelan-pelan sambil menikmati pemandangan yang ada disekitar. Huuhh…berasa kembali menemukan sebuah obat yang bisa membuat hati saya berasa menjadi nyaman dan tentram. dengan begitu hilang sudah semua rasa cemas dan lelah.

Selagi masih ada si hitam (kamera) yang senangtiasa menemani perjalanan,sebab itu pun saya masih bisa dengan puas mengabadikan beberapa keunikan yang saya jumpai selama perjalanan. Meskipun untuk spot yang paling bagus itu adalah di puncak bukit Pawuluhan. Di sini lah saya sudah cukup untuk merasa puas.  Dan saya pun tidak merasa sendirian dikarenakan alam selalu bersama dengan saya disetiap perjalanan yang saya lalui.

Mungkin hanyalah sebuah bukit, bukan sebuah gunung. Namun untuk mencapainya memerlukan waktu yang cukup panjang dan memerlukan sedikit perjuangan. Dimulai dari melewati jalan yang telah tertimbun oleh material longsor, licin dan serta berbatu, kami juga harus melewati jalanan yang naik turun dengan medan yang kecil di pagi hari. Ketika sampai di lokasi penitipan untuk kendaraan kami harus trekking sejauh 2,8km untuk bisa sampai ke atas bukit Pawuluhan. Dengan menggunakan penerangan yang seadanya kami menapaki jalanan yang berbatu, licin, terjal, dan naik turun.

Dengan kondisi mata yang masih sangat terasa lengket karena kantuk dan lelahnya perjalanan yang dilalui dari Semarang sampai Ke Kandang Serang kab. Pekalongan,  sehingga membuat langkah kaki saya ini terseok-seok.Dan untuk sementara di sekitar saya mendengar bunyi jeritan para serangga yang saling bersahutan. Mungkin dalam hati saya menerka, bahwasan nya saya ini sedang melewati persawahan dan secara tidak langsung udara sejuk sudah memenuhi paru-paru saya.

Dari mulai tanjakan pertama nafas saya sudah mulai terengah-engah. Sementara untuk kelima teman saya dari tadi dengan semangat menertawakan. Saya melihat kalau langkah kaki mereka dengan begitu lincah menapaki setiap tanjakan yang berbatu dan licin itu.

“ Terdengar dari kejauhan Teriakan “Ayo keburu matahari meninggi: teman saya yang sudah berada jauh di depan,Dengan sambil saya mengarahkan lampu senter untuk menerangi jalan.

Sesekali juga saya menghela nafas,untuk mengatur ritme jantung yang sudah mulai berdetak tak beraturan. baru ingat jika saya telah melakukan sebuah kesalahan dengan tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum trekking. Sehingga membuat nafas dan jantung saya bekerja dengan tak beraturan. Terlintas dalam pikiran saya hanyalah bukit, dan berharap agar perjalanan trekking segera usai setelah melalui tanjakan kedua. Namun apa yang saya pikirkan dari tadi adalah salah. Ternyata masih banyak tanjakan-tanjakan cinta yang telah menanti di depan sana.

Nafas saya sudah mulai terasa berat, dan rasanya juga ingin saya merebahan diri di atas rerumputan. Tanpa banyak pertimbangan saya langsung memperpanjang tripod yang saya bawa dan saya gunakan sebagai trekking pole untuk memperingan jalan. Saya tidak peduli meski itu kelihatanya sangat manja dan lemah.

Setelah berjuang melawan segalanya, dan berhasil menyusul teman-teman yang sudah berada di atas bukit. Rasa lelah saya terbayar lunas dengan segala pemandangan yang saya nikmati saat itu di atas bukit Pawuluhan . Gundukan-gundukan tanah berwarna hijau dan birunya langit membaur melukiskan keindahan ciptaan Tuhan. Rasa kagum dan ucapan syukur tak pernah henti terucap dari mulut kami.

Related Post