Tag Archives: Forex

Rekomendasi Pasangan USD/JPY Menurut Rifan Financindo

Rekomendasi Pasangan USD/JPY Menurut Rifan Financindo

Tampaknya kepopuleran Dollar AS untuk perdagangan dunia tengah mengalami krisis. Coba saja kita lihat rilis data ekonomi saat ini, ada gejolak politik serta perang antara AS dengan Huawei membuat banyak investor memilih mata uang lain untuk berinvestasi.

Menurut kutipan yang dilansir oleh pihak Bloomberg pada Selasa 28/5 kemarin, USD/JPY berada di angka 109,4600 ( melemah 0,05% ).

Menurut analis PT Rifan Financindo Berjangka, Puja Purbaya Sakti melihat bahwa memanasnya perang antara Presiden Trump dengan Xi Jinping memberikan efek buruk bagi investor dan pelaku pasar. Ya, wajar saja jika investor dan pelaku pasar belum berani mengambil resiko terkait kesepakatan antara AS dengan China tentang perang dagang.

Tidak hanya analis dalam negeri saja yang memberikan sinyal adanya pelemahan, analis dari negeri paman sam juga turut memberikan analisanya terkait permasalahan ini.

Kita bisa mengambil contoh dari data indeks harga rumah di AS, kita menggunakannya sebagai tolak ukur. Menurut data tersebut, harga rumah di Amerika Serikat turun dari 0,4% menjadi 0,1%. Sedangkan menurut Standart and Poors, turun dari 3,0% menjadi 2,7%.

Jika melihat data ekonomi Jepang, angka inflasi di Bank of Japan menunjukkan adanya peningkatan, dari 0,5% menjadi 0,7%

Menurut Sakti, pairing antara USD/JPY memiliki potensi untuk mengalami peningkatan. Hal ini didapatkan dari indikator cross forex dengan basis Yen yang berada di zona hijau. EMA 7juga menunjukkan volatilitas yang melebar, lebih mengarah ke pairing konsolidasi.

 

Analis Masih Merekomendasikan Saham INCO

Analis Masih Merekomendasikan Saham INCO

Ditengah kinerja visual yang kurang memenuhi ekspektasi, sejumlah analis justru masih merekomendasikan saham PT Vale Indonesia Tbk. Sebenarnya sejauh mana saham INCO ini dapat maju ?

Di kuartal pertama 2019, INCO melaporkan pendapatan sebesar 126,42juta USD, lebih rendah 25,83% ketimbang tahun lalu dimana mereka berhasil mencatatkan 170,45 juta USD.

Manejemen INCO menjelaskan bahwa penurunan tersebut diakibatkan oleh volume produksi serta harga realisasi rata-rata yang rendah ketimbang periode sebelumnya, penurunan mencapai 36% dibandingkan kuartal IV tahun lalu. Selain itu masih ada permasalahan tanur listrik 4 yang tidak terencana.

Frederick Daniel Tanggela selaku analis PT Indo Premier Sekuritas menilai bahwa operasional INCO pada kuartal pertama tahun ini memang melemah. Bayangkan saja, produksi nikel dalam matte hanya berhasil mencapai 13.080 ton, turun 36% secara kuartalan, jika dihitung pertahun, maka ada penurunan sekitar 24%.

Thomas Radityo selaku analis Ciptadana Sekuritas juga menurunkan harga saham perseroan yang awalnya dipatok 3.600, turun menjadi 3.350 per saham. Meski begitu, pihaknya masih mempertimbangkan dan merekomendasikan untuk membeli saham INCO.

Menurut data Bloomberg, dari 18 analis yang mengamati saham INCO, ada 14 analis yang masih merekomendasikan saham ini. Sementara itu sisanya meminta untuk menahan saham sampai harga kembali stabil.

Jika melihat sisi pegerakan saham, INCO terkoreksi 40 poin atau sekitar 1,36% ke level 2.900 pada hari Senin 6/5/2019 kemarin. Total kapitalisasi pasar yang dimiliki Inco adalah 28,82 triliun.

OJK Memberikan Izin Kepada Empat Penyelenggara Fintech Lending Baru

AFPI atau Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia memberikan apresiasi yang luar biasa kepada empat anggotanya yang sudah mendapatkan izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan untuk membuka usaha pendanaan.

Dengan adanya izin tersebut membuktikan bahwa ada kepercayaan regulator terhadap penyelenggara fintech P2P lending dalam menjalankan usaha di Indonesia.

Keempat fintech lending yang mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan tersebut adalah PT Investree Radhika Jaya ( Investree ), yang kedua adalah PT Amartha Mikro Fintek ( Amartha ), ketiga adalah PT Indo Fint Tek ( Dompet Kilat ), dan yang terakhir adalah Creative Mobile Adventure ( Kimo ). Keempat perusahaan fintech tersebut mendapatkan izinnya pada tanggal 13 Mei 2019 kemarin.

“Ini adalah berita yang menggembirakan bagi kami. Pihak OJK sudah memberikan kami kepercayaan untuk menjalankan usaha ini dengan cara memberikan izin usaha meminjam dengan basis teknologi yang memiliki dasar jelas serta tergabung kedalam AFPI. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada empat platform yang diberikan izin tadi karena sudah berhasil menunjukkan kredibilitas platformnya dalam dunia fintech,” ungkap Tumbur Pardede selaku Kepala Bidang Kelembagaan dan Humas AFPI.

“Selama mereka berjalan dibawah aturan OJK serta ekbijakan asosiasi, mereka dapat menjadi contoh yang baik bagi platform fintech lainnya yang ingin mendapatkan ijin dari OJK,” lanjut Pardede.

Menurut data yang dikeluarkan OJK saat ini, ada sekitar 113 lembaga penyelenggara fintech lending yang terdaftar, 107 diantaranya adalah penyelenggara bisnis konvensional dan 6 lainnya bersifat syariah.